|
DCS vs PLC mailing list: migas_indonesia@yahoogroups.com website : http://www.migas-indonesia.com |
| Dalam sebuah artikel dikatakan bahwa PLC dan DCS mempunyai fungsi yang sama. Saat ini perbedaan DCS dan PLC telah kabur karena masing-masing telah saling mengambil peran. PLC mengambil sebagian peran DCS dan sebaliknya.
Ini sangat berbeda dengan yang dipahami selama ini bahwa : Jadi, PLC adalah sub sistem dari sebuah sistem besar yang bernama DCS. Yang sejajar dalam hal ini adalah DDC dengan DCS dan FF, serta PLC dengan SLC, Microcontroller, dan sebagainya. Benarkah demikian? Perkembangan awal PLC, difungsikan lebih ke logic Control (Discrete Input/Output). Tapi Sekarang, PLC sudah mengakomodasi bukan hanya discrete Input/Output, didalamnya sudah dapat menerima signal dari Thermocouple, RTD, Load Cell, dan sebagainya langsung ke I/O PLC. Mungkin ini yang menjadi “kabur”, dimana fungsi-fungsi tersebut sebelumnya dipegang oleh DCS, sekarang dengan PLC saja sudah bisa. PLC pada dasarnya hanya pengontrol logika yang dapat diprogram. Walaupun pada perkembangannya PLC sudah dilengkapi analog signal, kemampuan aritmatiknya sangat terbatas. Sedangkan DCS, Sistem Pengendali terdistribusi Penekanannya ada di D-nya, Distribusi, yaitu distribusi tiga hal : Distribusi Resiko kegagalan, Distribusi lokasi dan Distribusi Pengendalian dan Man Power. Secara tradisional, memang benar bahwa DCS lebih lambat responnya dibanding PLC. Karena memang untuk regulatory control tidak perlu respon yang terlalu cepat karena kalau gagal masih ada safety shutdown system. Satu (1) second overall masih cukup untuk hampir semua aplikasi. Berbeda dengan safety application yang sering merupakan ladang PLC. Sekarang, kelihatannya sudah berbeda karena hardware dari yang secara tradisional DCS vendor makin “seperti PLC”. Ada yang mengatakan, “PLC itu Install and Forget it”, kalau DCS kebalikannya, karena lebih bersifat kompleks dan perlu monitoring. Kalau dilihat dari kompleksitas sistemnya, tergantung bagaimana konfigurasi sistem yang dipasang. Shutdown System Plant dengan menggunakan PLC-based juga bisa sangat kompleks, jauh lebih kompleks dibanding dengan DCS. Kalau tidak, mengapa para ahli sedemikian peduli sampai mengeluarkan IEC-61508, IEC-61511, IEC-62601 dan sebagainya. PLC terbaru saat ini sudah sanggup untuk mengolah sejumlah besar informasi secara real time karena sudah memiliki RAM antara 2 – 6 MB, memiliki konektivitas dengan Ethernet dan dapat diprogram dalam bentuk teks terstruktur maupun ladder logic. Pun, umumnya dioperasikan dengan Windows XP, dilengkapi dengan Human Machine Interface, HMI (misalnya Rockwell RSView), yang memungkinkan diadopsinya aplikasi Visual Basic, Hysys dan aplikasi lainnya. Perbedaan PLC dan dcs sekarang sudah tidak ada lagi, karena perkembangan teknologi yang sudah maju.. dimana PLC sudah banyak yang berperan sebagai DCS, malah lebih dari itu PLC bisa berperan seperti SAP…! PLC seringkali dipakai untuk safety system (trip system dari suatu equipment). Walaupun di DCS ada fasilitas LOGIC maupun sequence, kebanyakan untuk trip system, sinyal tripnya tetap diumpankan ke PLC, misalnya alarm LL dari level steam drum sinyalnya diumpankan ke PLC untuk men-TRIP-kan Boiler. Jadi perbedaan PLC ama DCS mungkin terletak pada kecepatan responnya. Dari studi kasus, di Caltex, DCS sudah lama dan ada penggantian dengan sistem PLC+MMI. Tapi biasanya, kalau di perusahaan migas ada dua sistem DCS dan PLC. PLC untuk Fire/gas and Shutdown System, DCS untuk Continuous Control. Juga banyak aplikasi yang lainnya, seperti spesifik kontrol untuk Compresor/turbin, Vibration Monitoring, Flow Computer System, Optimization,dan lain-lain. Dan semua apikasi itu bisa disambungkan ke DCS. DCS bisa memonitor semua sistem yang ada (PLC+MMI, flow computer, turbin control, optimization software, dan lain-lain). Mungkin sebenarnya bisa aja ditangani oleh satu DCS saja atau PLC+MMI saja. Tetapi di perusahaan Oil and Gas dibuat banyak sistem, salah satu alasannya untuk redundancy, kalau memakai satu sistem saja sekali mati, mati semua plantnya. Tetapi, kalau di industri makanan, mungkin cukup PLC+MMI saja, karena lebih murah daripada membeli DCS yang mahal. Pendapat lainnnya mengatakan bahwa PLC tidak sama dengan DCS, PLC bukan sub sistem DCS dan DCS bukan PLC yang dibesarkan. Bila dilihat dari awal terbentuknya kedua perangkat itu, PLC dibuat untuk menggantikan Relay Logic yang berfungsi sebagai shutdown system. DCS dibuat untuk menggantikan Controller (single Loop, multi loop, close loop, open loop, etc), yang mengendalikan jalannya Proses (Proses Control). Proses Controller tentu tidak sama dengan Logic Controller, dan jangan dipisahkan, karena akan berbeda maknanya. Dalam aplikasinyapun begitu. Maukah jika pada sistem pengaman (ESD/PLC) kita terjadi kegagalan, maka semua Control Process menjadi Uncontrol, karena PLC digunakan sebagai System Control..?? Atau sebaliknya, kita sudah tidak memiliki sistem pengaman (ESD/PLC), ketika Sistem Control terhadap proses (DCS) terjadi kegagalan, karena DCS juga digunakan sebagai ESD..???. Lebih jelas lagi jika kita melihat “kewajaran” peruntukannya kedua sistem tersebut. PLC “wajar/layak” digunakan untuk sistem pengaman (ESD) kompresor, pompa, turbin, heater, boiler, dan “Equipment Proses” yang lain. Sementara DCS, kewajaran peruntukannya adalah sistem “Pengendalian / Control”. Pengendalian terhadap perubahan level, flow, press, dan “Variable Proses” yang lain. Pada pengembangannya, PLC mulai menggunakan “Analog Input”. Input dari Transmitter atau Thermocouple. Tapi coba kita lihat ke Software pemrograman logic. Semua Analog input akan diubah menjadi Digital dan kembali menjadi parameter digital pada fungsi Logic yang digunakan. Kalaulah PLC kemudian memiliki fungsi PID Controller, lebih cenderung diperuntukan ke sistem dimana ESD dan proses control merupakan satu kesatuan Sequence yang tidak bisa dipisah. Misalnya Turbo Machinery Control. Tetapi kalau Aplikasi Anti surge, bukanlah ESD, dan lebih cenderung ke fungsi Control (bukan Logic). Bisa dilihat dari kasus sebagai berikut yang mungkin akan lebih terlihat dimana PLC dan DCS wajar diaplikasikan. Pada sebuah kompresor yang menggunakan sistem Auto Start untuk Pompa Lube Oil (L.O). Pompa yang normal beroperasi adalah Pompa Turbine (PT) dan Stand by adalah Pompa Motor (PM). Jika Press L.O. turun karena sesuatu hal misalnya PT Trip, setelah mencapai setting Press PM akan Auto Start. Penggunaan Sensor Press L.O. berupa Electronic Smart Pressure Transmitter dan Press.Trans. menjadi Analog input di PLC. Kejadiannya adalah : Saat PT Trip, PM terlambat Start dan kompresor Trip, karena turunnya press sangat cepat dibawah satu (1) detik. Setelah dilihat terjadi keterlambatan respon pada Press.transmitter, walaupun damping sudah minimum. Ternyata memang semua peralatan berbasis microprocessor itu akan memiliki Dead Time (juga dikatakan di Manual Book). Untuk mengatasinya kembali digunakan Pressure Switch untuk sistem Auto Start L.O. (sesuai desain awal). Apakah ada standard yang mengatakan sensor dari Sistem Logic ESD harus menggunakan Switch..??? Alangkah terlambat lagi jika input PLC berasal dari DCS. Dari cerita di atas, apakah kita akan menggukan DCS untuk fungsi PLC dan PLC untuk DCS..? Membicarakan mengenai beda antara PLC dan DCS selalu saja akan campur aduk kalau tidak di set dari awal kerangka berbicaranya pada tataran definisi atau realitas/kemampuan hardware software architecture-nya dalam mengerjakan tugas tertentu. Kalau berdasarkan definisinya, maka : PLC = Programmable Logic Controller DCS = Distributed Control System Celakanya, para vendor yang ada pada masing-masing kubu ini mulai saling berebut pasar (terutama vendor yang dulunya mengaku vendor PLC). Ini disebabkan karena kemampuan processor/CPU dan juga memori yang makin cepat dan harganya juga makin murah. Mereka mulai “mengkhianati” dan mulailah ada cross application. Vendor yang dulunya mengusung nama PLC sudah mulai memasuki arena regulatory control karena mereka mulai pede dengan barang mereka. Demikian pula Vendor yang dulunya mengusung nama DCS mulai tertarik memasuki arena discrete karena dari segi hardware saat ini sudah memungkinkan processor-nya punya execution time yang cepat sehingga pasar dicrete sudah bisa dimasuki. Dengan begitu, kalau melihat pada menyataan kemampuan architecture barang yang dimiliki masing-masing, maka pengertian PLC dan DCS sudah mulai kabur. Maka kalau standard mengatakannya adalah “Programmable Electronic”. Anything programmable and its electronic based device. Khusus mengenai dikotomi switch dan transmitter, spesifikasi response transmitter yang response timenya (include dead time) adalah 100 ~ 500 miliseconds. Dead timenya sendiri 40 ~ 100 miliseconds. Standard tidak menyarankan mana yang lebih baik dipakai karena kedua-duanya sama baiknya tergantung aplikasinya (bahkan akibat kemampuan transmitter yang bisa dipakai untuk check trend data analog, maka pemakaian transmitter makin popular. Kalau terdapat masalah dengan transmitter jangan langsung ambil kesimpulan bahwa switch lebih baik daripada transmitter. Jangan-jangan transmitternya model kuno, atau salah pasang setting sehingga backup pump terlambat jalan. Untuk pompa berapa kecepatan respon pompanya sendiri yang notabene mechanical ??? Penentuan settingnya lebih krusial daripada mempermasalahkan switch atau transmitter. Dalam teori, controller sebuah safety control disarankan terpisah dari controller process control. Namun, hal ini bukanlah sebuah kemutlakan yang harus diikuti. Terkadang sebuah process control tidak bisa dipisahkan dengan safety control. Contoh : pada sebuah test station onshore, ESD adalah process control itu sendiri termasuk sistem alarmnya. Interlocking system yang berfungsi mengidentifikasi dan menindaklanjuti alarm-alarm kritikal semisal HHLL pada vessel juga adalah bagian dari process control. Artikel yang dimaksud di atas lebih tepat mengatakan bahwa “DCS dan PLC mempunyai banyak fungsionalitas yang sama”. Kalau dikatakan bahwa “DCS dan PLC mempunyai fungsi yang sama”, dapat diartikan bahwa seluruh functionality DCS dan PLC sama, padahal masih ada banyak fungsionalitas yang tidak sama antara DCS dan PLC. * DCS bukanlah PLC yang besar. Kita bisa mempunyai DCS dengan 300 I/O dan 2 Processor Module, dan PLC dengan 8000 I/O dengan satu atau dua Processor Module; System Architecture DCS dan PLC berbeda. Tetapi memanglah demikian adanya. Topik ini adalah topik klasik yang sering dibicarakan dalam berbagai technical forum, tidak hanya di Indonesia tetapi juga secara internasional, dan tetap tidak membuahkan konklusi. Yang penting kita gunakan sistem yang sesuai dengan kegunaan. |
November 29, 2008 pukul 4:59 pm
untuk pengerjaan logic ESD ini saya blum pernah buat …
cuman pernah lihat pakai Cause and Effect Matrix nya saja….
programnya juga blum lihat …
sekilas sih menurut saya biasa aja kalo di buat ke programnya … paling pake AND, OR, TON, etc
cuman karena banyak …. bisa puyeng juga kalo ndak biasa buatnya
Desember 1, 2008 pukul 3:35 am
Pak Juare,
Bisakah saya mendapatkan training schedulle untuk PLC Allen Bradley lengkap dengan materi list-nya
Terima kasih,
Desember 3, 2008 pukul 2:36 pm
pak kuntjoro,
silahkan anda mengunjungi situs nya di http://www.ab.com ..
beberapa bulan yang lalu saya dapat list schedule training dari sini …
selain itu apabila anda ingin spesial request training juga bisa …. di tempat kami pernah beberapa kali minta ….
silahkan hubungi rockwell indonesia …
terima kasih
Desember 13, 2008 pukul 3:25 pm
Salam kenal dari saya AAN di Batam,
Saya baru memulai untuk mempelajari masalah PLC.
Saya lagi kebingungan untuk mencari Program simulator PLC Omron CX One V5.0.
Mohon advise-nya dimana saya bisa mendapatkan software tersebut. Jika ada yang Free mohon di informasikan juga.
Terimakasih banyak sebelumnya.
Best regards
Desember 20, 2008 pukul 12:41 pm
wah saya tidak punya …
coba bapak tanya teman saya tonai … link ke blognya ada di bagian kiri atas …
Januari 13, 2009 pukul 8:50 am
pak mau beri penjelasan tentang SMS messaging to mobile phone from PLC system.
terima kasih
Januari 20, 2009 pukul 2:56 pm
wah saya belum pernah coba …. maaf …
Februari 2, 2009 pukul 2:54 pm
DCS vs PLC
Memiliki keunggulang masing – masing
Juga tak tambahi DCS vs PLC vs Hybrid
PLC (programable Logic Control) dibuat untuk menyederhanakan sistem pengontrolan logika, karena dulu sistem diskrit sangat berperan pada pengontrolan berupa relay2. Saking meluasnya fungsi sitem kontrol, PLC tidak lagi digunakan untuk pengontrolan logic, karena diperluas menjadi pengontrolan analog dengan data2 integer, double integer dan real. Setelahperkembangan tersebut PLC dinamakan Programable Controller.
PLC bekerja sendiri, dan bila membutuhkan integrasi management yanglebih tinggi dipakailah scada
Sedangkan DCS dilahirkan untuk pengontrolan loop process, sistem yang dibuat berupa fungsi blokdan sistem2 lain kebanyakan untuk proses kontinyu contohe: PID, ratio kontrol, regulatory process value dll.
Beda dengan PLC, DCS dibuat integrasi dengan sistem HMI-nya biasanya dibuat suatu OS sendiri, misanya DEO (Harmonas-Yamatake), PCS7(Siemens)
Jadi fitur-fitur pada kontroller telah dibuat menjadi satu
Kemudahan lain alamatnya tidak ruwet seperti PLC yang memakai memori yang dialamat berurut word(16bit)
Keunggulan lain kapasitas I/O nya besar
Kelemahan DCS sistem eksekusi logic tidak begitu cepat
Untuk mengatasi kelemahan kedua sistem tersebut dibuatlah hybrid, yaitu kontroller terintegrasi sistem OS dan addressing mudah, juga kecepatan logic tinggi
gitu deh……………
Oktober 23, 2009 pukul 7:08 pm
Mas Ikwan,
Artikel diatas menurut saya sudah sangat bijak dalam mengungkap perbedaan antara DCS dan PLC.Menurut saya ada beberapa hal yg perlu dikoreksi dari komentar anda :
1. “PLC bekerja sendiri, dan bila membutuhkan integrasi management yanglebih tinggi dipakailah scada”, untuk hali ini bisa anda baca lagi artikel diatas dan anda perlu memahami makna SCADA lebih dalam.
2. “Sedangkan DCS dilahirkan untuk pengontrolan loop process, sistem yang dibuat berupa fungsi blok”, Produk AB Control Logix sudah memiliki fitur yang lebih komplit tuk programming language nya,bisa pake ladder diagram, SFC, Text dan Function Block….so bedanya dgn DCS…??? saya juga uda pake beberapa produk DCS dan fitur2nya uda bisa disamai dgn Control Logix
3. “Kemudahan lain alamatnya tidak ruwet seperti PLC yang memakai memori yang dialamat berurut word(16bit)”, coba beli produk AB Control Logix tuk memastikan kebenaran dari komentar anda ini
4. “Beda dengan PLC, DCS dibuat integrasi dengan sistem HMI-nya biasanya dibuat suatu OS sendiri”. jawaban sama dengan no.3
5. “Keunggulan lain kapasitas I/O nya besar”, jawaban sama dengan no.3
Jadi harapan kami mohon anda terus mengikuti perkembangan Control System yang updated….sehingga komentar2 anda bisa jadi masukan rekan2 lain
Trims,Wassalam
Februari 2, 2009 pukul 3:01 pm
Untuk aan
Simulator CX-One pakai CX- Simulator
Biasanya kalau beli CX-ONe kan jadi satu instalnya
Kalau penggunaanya tinggal pake di iconnya, (kalo dah install keluar di cx-programmer) tapi kudu insert dulu PLC yang jaman sekarang diatas C200 ( CS1, CJ1, CP1…)
Kalo udah buat ladder, FB, ST ato SFC tinggal klik iconnya di CX programmer. Selamat mencoba